- Back to Home »
- Perang Sampai Akhir
Posted by : Thor
Kamis, 15 Januari 2015
ditulis oleh: Al Ustadz Abu Khuzaimah
Permusuhan antara
manusia dengan Iblis dan bala tentaranya, para Syaithan dari
keturunannya, bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Bahkan permusuhan
itu sendiri telah diabadikan oleh Allah dalam Al qur’an dalam ayat-ayat
yang banyak di beberapa tempat yang berbeda dalam Al qur’an.
Dimulai dari diciptakannya nabi Adam ‘alaihi sallam nenek moyang manusia, ketika nabi Adam ‘alaihi sallam masih dalam bentuk badan tanpa ruh, Iblis sudah berusaha untuk mencari kelemahan nabi Adam ‘alaihi sallam
dengan mengitari pada jasad tanpa ruh tersebut. Dalam sebuah hadits
yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Muslim dan
shahabat Anas radhiyallahu ‘anhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لَمَّا صَوَّرَ اللهُ آدَمَ فِي الْجَنَّةِ تَرَكَهُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَتْرُكَهُ، فَجَعَلَ إِبْلِيسُ يُطِيفُ بِهِ، يَنْظُرُ مَا هُوَ، فَلَمَّا رَآهُ أَجْوَفَ عَرَفَ أَنَّهُ خُلِقَ خَلْقًا لَا يَتَمَالَكُ
“Ketika Allah menciptakan Adam
(sebelum ditiupkan ruh), maka ia pun meninggalkannya selama yang
dikehendaki-Nya untuk membiarkannya,kemudian mulailah Iblis mengitari
jasad Adam itu, ketika Iblis melihat bahwa jasad itu berongga, maka ia
pun mengetahui bahwa jasad itu adalah makhluk yang tidak bisa menahan
diri”. (HR. Ahmad No 13661 dan Muslim No 2611)
Rasa hasad membuat Iblis ingin mengetahui kelemahan nabi Adam ‘alaihi sallam dan didapatinya bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bisa menahan dirinya. Imam Nawawi1 menyebutkan kitabnya Al Minhaj,
makna “tidak bisa menahan dirinya” yaitu tidak bisa menahan diri dari
syahwat. Sebagian Ulama juga mengatakan tidak bisa menahan amarah,
sebagian lain mengatakan, tidak bisa
manahan diri dari was-was. Rasa hasad ini terus berlanjut sampai ketika
ditiupkan ruh kepada bapak kita Adam dan Allah Subhanahu wata’ala perintahkan para malaikat dan Iblis untuk bersujud kepada nabi Adam ‘alaihi sallam, maka dia Iblis menolak. Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam surat Al Baqoroh yang artinya :
“Maka bersujudlah para malaikat seluruhnya kecuali Iblis dia enggan untuk sujud, dan menyombongkan diri.” (QS. Al Baqoroh : 34)
Bahkan Iblis berbalik mengancam dan mengatakan seperti dalam surat Al A’raf yang artinya :
“Karena Engkau telah menyesatkan
aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.
Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang,
dari kanan, dari kiri mereka. Dan Engkau tidak mendapati kebanyakan
mereka bersyukur”. (QS. Al A’raf: 16-17)
Berkata Al Imam Hasan al Bashri2 Rahimahullah tentang makna ayat ini :
-Dari depan mereka : Dari sisi akhirat
mereka, Syaithan akan membuat mereka mendustakan hari berbangkit,
mendustakan Al Jannah (Surga) dan Neraka
-Dari sisi belakang mereka: Dari sisi dunia mereka, Syaithan akan menghiasi dunia dan membuat dunia tersebut terlihat lezat
-Dari sisi kanan mereka : Dari sisi-sisi kebaikan-kebaikan, Syaithan akan menghalangi dari kebaikan tersebut
-Dari sisi kiri mereka: Dari sisi
keburukan, Syaithan akan memerintahkan mereka untuk mengerjakan
keburukan dan menghiasi keburukan tersebut bagi mereka.
Subhanallah, begitu gigihnya dia untuk
menghancurkan anak-anak Adam dengan mendatangi dari berbagai sisinya,
namun dia tidak mampu untuk mendatangi anak Adam dari sisi atas, kenapa?
Telah shahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : “Iblis
tidak mengatakan ‘dari sisi atas mereka’ karena dia tahu, bahwasanya
Allah ada diatas mereka”
Iblis tidak mampu untuk menghalangi antara manusia dan rahmat Allah Subhanahu wata’ala.
Permusuhan ini juga ia perlihatkan pada setiap anak Adam yang baru
lahir, seperti diriwayatkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Al Bukhori dan Muslim:
كُلُّ بَنِي آدَمَ يَطْعُنُ الشَّيْطَانُ فِي جَنْبَيْهِ بِإِصْبَعِهِ حِينَ يُولَدُ، غَيْرَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، ذَهَبَ يَطْعُنُ فَطَعَنَ فِي الحِجَابِ
“Tidaklah dari bayi yang lahir
kecuali Syaithan menusuk pada lambung sang bayi (dengan jarinya) ketika
dilahirkan, sehingga ia menangis kecuali Maryam dan putranya. Syaithan
berusaha melakukan tusukan tetapi terhalang oleh hijab (penghalang).” (HR. Al Bukhori no 3286, 3431 Muslim no 2366 dari Abu Hurairoh)
Demikianlah bentuk kedengkian Syaithan
terhadap anak-anak Adam, namun sangat disayangkan sekali banyak
saudara-saudara kita yang lalai dan lupa tentang perkara ini, mereka
lupa kalau Syaithan selalu mengincar kelengahan mereka. Banyak diantara
mereka meninggalkan sholat hanya karena sibuk dengan pekerjaannya.
Subhanallah kita berlindung pada
Allah Subhanahu wata’ala dari yang demikian tidak mereka tahu, bahwa amalannya akan ditanyakan pada hari kiamat kelak? Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala dari hal-hal yang bisa memalingkan kita dari-NYA, Aamiin.
Para Pembaca, Semoga Allah Subhanahu
wata’ala merahmati kita semua, sesungguhnya Syaithan mempunyai berbagai
tipu dayanya untuk menyesatkan manusia, (Insya Allah pada edisi Media
Kajian Islam dengan tema Aqidah pada kesempatan lain akan kita bahas
dengan lengkap, pen). Salah satu dari tipu tersebut ialah menakut-nakuti
bani Adam dengan kefakiran/kemiskinan, seperti dalam firman Allah
Subhanahu wata’ala yang Artinya:
“Syaithan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyeru kamu untuk berbuat keji.” (QS. Al Baqoroh: 268)
Sehingga dengan bisikan Syaithan ini
manusia menjadi enggan untuk meninggalkan kemaksiatan dan enggan
melakukan kebaikan. Para pembaca semoga Allah Subhanahu wata’ala
merahmati kita semua. Kita telah mengetahui bahwa Syaithan akan
mendatangi manusia dari empat sisi, depan, belakang, kanan, kiri.
Lalu bagaimana seorang hamba bisa
mengatasi tipu daya Syaithan tersebut? Tidak lain hanya dengan taqwa
kepada Allah Subhanahu wata’ala dan taqwa hanya bisa diraih dengan
menuntut ilmu Agama.
Seorang yang memahami ilmu agama dengan
baik akan mudah menjawab bisikan-bisikan Syaithan yang ditujukan
padanya. Jika Syaithan membisikkan padanya tentang kemiskinan, maka dia
akan membacakan firman Allah Subhanahu wata’ala yang artinya:
“Tidaklah setiap Makhluk diatas permukaan bumi kecuali Allahlah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud : 6)
Seseorang yang bertaqwa pada Allah, maka Syaithan tidak akan ada kuasa atasnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya kamu (Iblis) tidak kuasa atas hamba-hambaku, kecuali mereka yang mengikutimu, yaitu orang yang sesat.” (QS. Al Hijr: 42)
Oleh karena itu bagi kita untuk selalu
menjaga ketaatan pada Allah Subhanahu wata’ala, untuk mematahkan tipu
daya Syaithan , terkhusus untuk menggapai derajat taqwa di bulan
Ramadhan ini. Jika ada yang bertanya bukankah Syaithan pada bulan
Ramadhan ini dibelenggu? Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الجِنِّ،
“Jika malam pertama Ramadhan datang, maka Syaithan-Syaithan dan Jin-Jin durhaka dibelenggu.” (HR. Tirmidzi no 682 dan Ibnu Majah no 1642)
Al Imam Ibnu Abdil bar rahimahullah berkata dalam kitabnya At Tamhid,
makna hadits ini menurut pendapatku Allahu A’lam, Allah melindungi
didalamnya kaum muslimin, Atau mayoritas kaum muslimin dari
maksiat-maksiat, jadi Syaithan tidak bebas datang pada mereka
sebagaimana mereka bebas datang sepanjang tahun. Jadi Syaithan akan
tetap menggoda kita walau tidak segencar diluar bulan Ramadhan.
Sebagian Ulama menjelaskan bahwa yang
dibelenggu adalah sebagian Syaithan tidak seluruhnya. Sebagaimana
dinukilkan Al Mubarakfuri3 dalam Tufahtul Ahwadzi.
Allahu ’ala a’lam bishowab
Maraji’/Refresrensi:
- Ighatsatul Lahfan, Ibnul Qoyim Al Jauziyah
- Tafsir Ibnu Katsir
- Al Minhaj, Imam Nawawi
- Qosasul Anbiya, Ibnu Katsir
- At Tamhid lima fil muwatho’ Ibnu Abdil bar (Maktabah Syamilah)
- Tuhfatul ahwadzi bisyarhi jami tirmidzi Al Imam al Mubarakfuri (Maktabah Syamilah)
- Tafsir Ibnu Katsir
- Al Minhaj, Imam Nawawi
- Qosasul Anbiya, Ibnu Katsir
- At Tamhid lima fil muwatho’ Ibnu Abdil bar (Maktabah Syamilah)
- Tuhfatul ahwadzi bisyarhi jami tirmidzi Al Imam al Mubarakfuri (Maktabah Syamilah)
Keterangan nama :
1.Imam Nawawi : Yahya bin Syarf An Nawawi, 631-676 H/ 1238-1274 M, Penulis Kitab Riyadhus Sholihin
2.Imam Al Hasan Al bashri : Tabi’in (30 – 110 H / 637- 1707 M)
3.Al Mubarokfury : Wafat pada tahun 1353 H / 1934 M
Sumber : daarulhaditssumbar

